Nganjuk,LintasRepublik
Petani
bawang merah melakukan aksi protes terhadap sikap pemerintah yang enggan
mengatur tata niaga komoditas unggulan masyarakat Nganjuk. Akibatnya harga
terus merosot hingga Rp 2000 per kg (bawang merah basah), Rp 5 ribu per kg
(bawang merah kering).
Dalam
aksinya mereka mendesak anggota dewan untuk turut berpikir melakukan
pengendalian harga pada tingkatan yang mampu menyejahterakan petani.
![]() |
| Aksi demo para petani di depan gedung DPRD Nganjuk |
Aksi
protes petani diawali dengan melakukan pawai di jalan Wilangan hingga Nganjuk.
Aksi berhenti di depan kantor DPRD Nganjuk. Para demonstran kemudian melakukan orasi
sambil menyebar kuintalan bawang merah dan menginjak-injaknya sebagai aksi
protes.
Dalam
orasinya salah satu demonstran mendesak kepada pemerintah untuk memberi
perlindungan nasib petani yang terus merosot, karena hasil panennya di pasaran
terjun bebas.
Bahkan
petani juga minta aparat untuk ikut mengawasi distribusi pupuk dan obat untuk
menanam bawang merah, yang selalu dipermainkan tengkulak. Indikasinya ketika
musim tanam selalu mengalami kenaikan dan keberadaan barang-barang itu langka
dipasaran.
“Sehingga
petani harus menanggung dengan harga beli obat dan pupuk sangat mahal,” ujar
Joko salah seorang pendemo.
Usai
melakukan orasi, 15 perwakilan demontrans diterima anggota komisi B untuk
menyampaikanaspirasinya. Dalam dialog juga dihadirkan Sekkab Nganjuk, Masduqi,
Kapolres Nganjuk Muh. Anwar. Sementara dalam dialog dipimpin langsung Ketua
Komisi B, Basori didampingi anggotanya, Yuswanto, Sukamto.
Joko
perwakilan petani bawang meminta kepada pemerintah melakukan pengendalian tata
niaga bawang merah sebagai pangkal merosotnya harga komoditas itu. Alasannya,
pada saat panen raya bawangmerah membludak, dan pasar penbuh dengan bawang
merah. “Saya
yakin jika tata niaga diatur, maka, harga tidak akan sampai anjlok sampai Rp
2000 per kg,” ujarnya.
Joko juga mendesak kepada pemerintah membantu petani menyediakan dana talangan untuk modal penanaman untuk pembelian pupuk, obat dan bibit. Dengan bantuan modal petani bisa mengurangi risiko kerugian material akibat mahalnya obat, pupuk dan bibit.(kus)

No comments:
Post a Comment