Koran Republik News

Monday, August 31, 2015

Bupati Madiun Bersikeras Tidak Keluarkan Rekom Galian C

foto Lokasi galian
Madiun_LintasRepublik
Pengusaha Galian C di Kabupaten Madiun terancam  bangkrut lantaran Pemkab Madiun hingga kini enggan mengeluarkan rekomendasi kepala daerah sebagai syarat dikeluarkannya ijin usaha pertambangan oleh SDA ( Sumber Daya Alam ) Provinsi Jawa Timur. Bupati Madiun H Muhtarom, mengatakan dirinya bersikeras tidak akan mengeluarkan rekom usaha Galian C di wilayahnya karena menurutnya semua kewenangan terkait hal itu diambil alih Pemprov Jawa Timur.

Menurut  Muhtarom, saat ini belum ada aturan yang jelas mengenai pembuatan rekomendasi tersebut. “Terkait rekomendasi untuk usaha Galian C ini semua kewenangan sudah diambil alih Pemprov Jatim.,jadi daerah tidak mungkin mengeluarkan  rekomendasi, lagipula aturan untuk mengeluarkan rekomendasi juga masih belum jelas,” terangnya saat dikonfirmasi awak Media  (21/8/2015).

Beberapa waktu yang lalu, tepatnya 4 Agustus 2015, pihak SDA Pemprov Jatim telah melakukan sosialisasi terkait perijinan usaha Galian C khususnya di Kabupaten Madiun. Dalam sosialisasi itu disebutkan salah satu syarat dikeluarkannya ijin usaha akan turun dari provinsi jika ada rekomendasi dari kepala daerah setempat. “Yang jelas pengajuan  ijin yang akan kami proses jika ada rekomendasi dari kepala daerah dalam hal ini Bupati,” terang Kasi Pemanfaatan SDA Pemprov Jatim, Harsilo, di hadapan para pengusaha Galian C dalam acara sosialisasi perijinan di Pusat Pemerintahan Kabupaten Madiun di Mejayan Caruban.


Untuk diketahui, lantaran  belum dikeluarkannya rekomendasi  dari Bupati Madiun , berdampak  banyaknya usaha Galian C ilegal yang beroperasi di Kabupaten Madiun tanpa ada pengawasan dari pemerintahan serta pihak berwajib untuk menertibkannya. *(Ebit/LR).

Gas Melon Di Ngawi Tembus Hingga 30 Ribu Rupiah

Hasil gambar untuk tabung gas
Ngawi_LintasRepublik
Harga Elpiji ukuran 3 Kilogram di wilayah kabupaten Ngawi sejak paska lebaran, harganya kini tembus kisaran 18 ribu hingga 30 ribu rupiah. Salah satu pemilik pangkalan gas mengatakan bahwa hal ini disebabkan besarnya permintaan pasar yang diduga karena seiring pesatnya usaha mikro yang berupa warung makan maupun restoran dan bukan akibat pasokan Gas melon dari agen yang berkurang.


Hal senada juga diiyakan oleh David Setiawan, pengelola SPBE PT. Suminar Mitragas Selaras mengaku kelangkaan tersebut lantaran permintaan dari pasaran melebihi dari kuota sebelumnya.”Permintaan konsumen yang meningkat tajam mengakibatkan kebutuhan meningkat  tajam  tidak sesuai dengan  kuoto sebelumnya ya otomatis harga meningkat signifikan”,terangnya.

Pihaknya juga menyayangkan  sikap  pemilik usaha mikro tersebut lantaran  belum beralih ke ke tabung 12 kilogram. Padahal tabung gas elpiji 3 kilogram memang ditujukan untuk konsumen rumahan.

Selain itu dirinya mengaku bila pasokan tabung gas tak mengalami pengurangan dan  tiap hari dirinya tetap mengeluarkan tabung gas sekitar 5600 tabung dari SPBE di seputaran Desa Watualang itu. Bahkan pada lebaran lalu dirinya justru menambah pasokan untuk mengatasi kelangkaan gas elpiji dilapangan.*(Ebit/LR)

Dinas Pertanian dan Perkebunan Mendapat Kucuran Dana Sebesar Rp. 24 Milliar

Hasil gambar untuk kucuran dana
Malang_Lintas Republik
Dinas Pertanian dan Perkebunan di Kabupaten Malang mendapat tambahan alokasi anggaran sebesar Rp. 24 Milliar dalam Perubahan Anggaran Keuangan (PAK)  tahun 2015 untuk memperbaiki saluran irigasi yang rusak.

Menurut Tomie Herawanto Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Malang dengan adanya tambahan anggaran tersebut total alokasi di Kabupaten Malang menjadi sebanyak Rp. 35 Milliar “Ungkap Tomie.


Anggaran tersebut nantinya juga akan digunakan untuk menyediakan sarana kebutuhan air untuk area pertanian yang tersebar di 33 Kecamatan Kabupaten Malang. Tomie menambahkan pihaknya berharap dengan penambahan anggaran tersebut mampu mewujudkan Kabupaten Malang menjadi sentra pangan. (win)

11 Desa di Dua Kecamatan Terancam Kekeringan

aksi warga di depan gedung Dewan
Malang_Lintas Republik
Pada waktu rapat Paripurna yang dihadiri BAPEDA, Dinas ESDM (Energi dan Sumber Daya Mineral), dinas Pengairan, dinas Pertanian dan Perkebunan, BLH (Badan Lingkungan Hidup dan PDAM) sedangkan kaum tani yang berjumlah ratusan orang hanya 25 orang yang boleh masuk keruang paripurna.


Rapat kerja di Paripurna berakhir sampai sore, membahas tentang program – program perbaikan irigrasi. Jika masih kurang bias menambah di PAK (Perubahan Anggaran Keuangan) APBD 2015 “terang Ketua DPRD Kabupaten Malang Hari Sasongko. Dalam pertemuan itu para petani mengeluhkan bahwa sebelum PDAM mengambil air dari Sumber Pitu, pertanian warga sudah kekurangan air. Jika air sumber pitu tetap diambil untuk Malang Kota dan Kabupaten Malang lahan pertanian mereka akan makin kesulitan air dan terancam kekeringan. (win)

Kecelakan Maut,Kapolsek Wonosari Berserta Istri meninggal Dunia

Malang_Lintas Republik
Inalillahi wainna Ilaihi rojiun,Kabar duka datang dari jajaran Mapolres kab. Malang, kapolsek wonosari AKP Afan Junaedi 51 th beserta istrinya Tatik Hidayah 50 th meninggal dunia dalam kecelakaan tunggal Minggu 30 Agustus 2015 sekitar pukul 11.45 WIB. Korban mengalami kecelakaan dijalan Raya Ngebruk kec. Sumberpucung Kab. Malang

Menurut saksi mata mobil yang dikendarai kapolsek wonosari ini sempat menyenggol sebuah becak sebelum akhirnya menabrak pohon kondisi mobil saat ini kaca depan pecah dan kap mesin mobil terbuka dan rusak parah, sementara itu kondisi becak tidak rusak diduga beliau kelelahan sehingga mobil Xenia dengan nopol N 562 DC menabrak pohon di kiri jalan “terang Kasat Lantas Polres Malang” AKP Bobby Adimas saat ditemui wartawan. 

Dalam olah TKP tidak ditemukan bekas rem mendadak sehingga kesimpulan sementara mobil menabrak pohon dalam kecepatan tinggi, akibat kecelakaan tunggal ini Nyonya Afan Junaedi langsung meninggal di TKP akibat luka parah di bagian kepala sedang Kapolsek Wonosari menghembuskan nafas terakhirnya saat dirawat di RS Saiful Anwar Malang.

Tampak hadir dirumah duka AKBP Aris Haryanto didampingi Wakapolres Malang Kompol Arief Mukti beserta jajaran turut berduka cita yang mendalam atas kepergian pasangan yang dikenal sangat bersahaja dan telah meninggalkan 3 orang anak.
Rencananya jenasahnya akan dimakamkan siang ini (hari senin) “ terang Kapolsek Ngebruk Sumberpucung AKP Sri Widyasari (win/LR)

Mengaku Anggota LPI Bikin Ulah Lagi.

Senja Galindra
Magetan_Lintas Republik
Setelah ramai di beritakan, Senja Galindra yang mengaku aktifis Lembaga Pemantau Independen dan di duga melakukan jual beli pernyataan senilai Rp.20.000.000,kini senja membuat ulah lagi dengan mengajukan surat pendampingan/pemantauan ke desa-desa di Kabupaten dengan mengatasnamakan LPI (Lembaga Pemantau Independen) padahal saat di konfirmasi ke Kesbangpol Magetan di dapatkan informasi bahwa Lembaga tersebut belum di daftar ulang.”LPI memang pernah terdaftar tahun 2010 lalu namun sampai saat ini belum pernah di daftar ulang dengan kepengurusan yang baru artinya kalau Senja masuk sebagai pengurus yang baru berarti belum terdaftar,”ungkap Siswan Sugijatno Kepala Bidang di Kesbangpol Magetan.
Dalam surat edarannya di sebutkan nama-nama beberapa pengurus,diantaranya Surisno dan Zahni.”Saya gak pernah masuk sebagai anggota di LPI itu tapi gak tahu kalau ada Sutrisno yang lain dengan nama yang sama,”ujar Sutrisno yang sehari-harinya berprofesi sebagai wartawan di salah satu koran di Jawa Timur tersebut. Zahni yang merasa namanya di catut juga sangat keberatan.”Saya gak pernah merasa ikut-ikut di LPI itu tapi saya heran koq nama saya di cantumkan di kepengurusan LPI dan gelar yang di buat juga gak bener dan saya akan melaporkan ke pihak berwajib bila tidak  segera menyelesaikan permasalahan ini,”tegas Zahni yang juga berprofesi sebagai Wartawan.

Senja Galindra juga sebelumnya sempat diberitakan akibat perbuatannya yang memeras guru SMA 1 Barat dengan modus mengancam akan menyebarkan  foto bugil dan melakukan penipuan, mengaku sebagai  pengacara dengan korban TKW asal Parang sehingga dinilai sangat meresahkan dan mencemarkan kredibilitas aktifis di Magetan khususnya. Hal ini disampaikan oleh Dani salah satu anggota Ormas Oi Bersatu, ia menekankan perilaku  Senja ini tidak pantas dilindungi dan akan segera dipolisikan jika melakukan pidana lagi.
"Prilaku seperti senja yang tidak baik ini menciderai kredibilitas aktifis Magetan, makanya kapan - kapan kalau ia berulah dilaporkan ke polisi saja" ujar Dani geram. (Ebit/LR).

Sejarah Kerajaan Blambangan


Kerajaan Blambangan pada awalnya adalah Kerajaan yang bercorak Hindu dan merupakan Kerajaan Hindu terakhir di Pulau Jawa, didirikan pada tahun 1294 Masehi oleh Arya WirarajaBupati dari Madura di Lamajang ( Lumajang sekarang ini.red) karena jasa-jasanya terhadap Raden Wijaya yang berhasil menggulingkan Jaya Katwang dan mengusir tentara Mongol keluar Jawa Timur, serta mendirikan kerajaan Majapahit, hal ini sesuai dengan Serat Raja Blambangan tahun 1774 Masehi, dan Serat Pararaton juga menyebut nama Arya Wiraraja dan Lamajang.
Blambangan atau Bala = Rakyat, ombo = Besar, yang berarti Kerajaan yang banyak rakyatnya merupakan kerajaan maritim pada abad ke 13 sampai abad ke 18 dengan batasnya dari Gunung Bromo Kabupaten Lumajang sampai ke Jawa bagian Timur 10 km  dari  kota Banyuwangi sekarang ini, kecuali Pasuruan, dengan Ibu Kotanya di Panarukan ( Sekarang Situbondo.red ) hal ini sesuai dengan cerita rakyat dan Serat Damar Wulan tahun 1815 Masehi & Serat Menak Jingga.
Menurut Serat Damar Wulan Tahun.1815 M & Menak Jingga, Raja-Raja Blambangan adalah Arya Wiraraja, sebagai Pendiri Kerajaan Blambangan Tahun 1294 M di Lamajang atau Lumajang Menak Gadru, memerintah wilayah Prasada atau Lumajang, disebut juga sebagai Menak Goden menurunkan Menak Lampor yang menguasai Werdati-Teposono-Lumajang. Menak Lampor, yang menguasai Werdati-Teposono-Lumajang. Menak Sumandhe atau Bima Koncar Tahun 1489 M - 1500 M. Menak Pentor, tahun 1500 M - 1541 M. Menak Cucu, (Tahun 1550 M - 1582 M), memerintah Candi Bang atau Kedhaton Baluran, terkenal dengan sebutan Menak Jingga atau Menak Jinggo dan Anaknya bernama Sontoguno.
Menak Lumpat, Raja di Werdati yang disebut juga Sunan Rebut Payung mempunyai Putra bernama Menak Seruyu bergelar Pangeran Singosari Sunan Tawang Alun I menaklukan Mas kriyan dan seluruh keluarganya dibunuh. Menak Seruyu atau Tawang Alun I, (Tahun 633 M - 1639 M) Bergelar Pangeran Singosari , memerintah daerah Lumajang, Kedawung dan Blambangan Banyuwangi Jawa Timur, Pada masa ini tahun 1633 Kerajaan Blambangan diserang oleh Sultan Agung tetapi gagal, dan memang setelah Kerajaan Majapahit runtuh pada abad ke 15 Kerajaan Blambangan menjadi rebutan kerajaan Islam seperti Demak, Pajang, dan Mataram untuk expansi atau mengislamkan Jawa bagian timur, tetapi  selalu gagal. Menak Seruyu bergelar Pangeran Singosari atau Tawang Alun I mempunyai Putra yang bernama, Mas Gede Buyut, Mas Ayu Widharba, Mas Lego mempunyai Putra bernama Mas Surodilogo (Embah Kopek), Mas Lanang Dangiran disebut juga Embah Mas Brondong, mempunyai anak bernama Mas Aji Rekso Negoro & Mas Danuwiryo.
Mas Senopo atau Mas Kembar  atau Tawang Alun II, ( Tahun 1665 M - 1691 M ), memerintah  Kedhaton Macan Putih bergelar Susuhunan Gusti Prabu Tawang Alun II, dari 9 Raja Blambangan, Tawang Alun II ini  merupakan Raja terbesar Kerajaan Blambangan dan terbanyak Istri serta Selirnya,  daerah kekuasaannya meliputi Jember, Lumajang, Situ Bondo dan Bali, rakyatnya hidup makmur. Menurut Situs Umpak Songo atau Sembilan Penyangga yang ditemukan di desa Tambak Rejo, VOC Belanda berusaha memutus hubungan Kerajaan Blambangan dengan Raja Bali GelGel dan Raja Mengwi, karena sulit menaklukan Kerajaan Blambangan, Voc Belanda bekerja sama dengan Kerajaan Mataran Islam dan Kerajaan Pajang juga Demak tetapi tidak berhasil.
Dengan tujuan untuk memperkuat Wilayah kekuasaan Kerajaan Blambangan, Tawang Alun II memperistri beberapa Permaisuri dan beberapa Selir yaitu, Mas Ayu Rangdiyah (dari kerajaan Bali.red ) sebagai Permaisuri, Mas Ayu Dewi Sumekar (dari kerajaan Blater.red) sebagai Permaisuri Pangeran Patih Sostro Negoro menikah dengan Putri Untung Suropati menurunkan Putra Pangeran Putro Mas Purbo Danurejo dan Anaknya Pangeran Agung Dupati dan dari Selirnya lahir Mas Simo atau Pangeran Willis. Anak-Anak Raja Tawang Alun II ( dari Permaisuri ) adalah, Pangeran Kerta, Pangeran Mancanggara, Pangeran Gajah Binarong, Dalem Agung Mancapuro, Dalem Patih Sostro Negoro atau Pangeran Dipati Rayi. Anak-Anak Raja Tawang Alun II ( dari Selir ) adalah Mas Dalem Jurang Mangun, Mas Dalem Wilo Atmojo, Mas Dalem Wilo Kromo, Mas Dalem Wilo Ludro, Mas Dalem Wilo Tulis, Mas Dalem Wiro Luko, Mas Dalem Puger, Mas Dalem Wiyoyudo, Mas Dalem KI Jayaningrat, dan Mas Dalem Wiro Guno ( Pada Tahun 1772 di Peralat VOC.red).
Pada masa akhir tahtanya, Raja Tawang Alun II mangkat dan upacara ngaben digelar, tempat kremasinya terletak 1 km dari Balai Agung Macan Putih yang mana seluruh Istri dan Selir Tawang Alun II turut membakar diri (Mati Sati.red) masuk kedalam kobaran Api Pembakaran. Setelah kepergian Raja Tawang Alun II Terjadi Peperangan antara Anak Permaisuri Ke I dan Anak Permaisuri Ke II, Kedhaton Macan Putih di rusak oleh Pangeran Dipati Rayi.(Epos Kisah Damar Wulan dan Menak Jingga.red). Pangeran Agung Dupati, Tahun 1736 M -  1763 M ( Cucu Tawang Alun II ) yang merupakan Cucu Untung Suropati bergelar Sinuhun Gusti Prabu Danu Ningrat memerintah Kerajaan Blambangan di kedhaton Macan Putih, Selirnya melahirkan Mas Simo / Pengeran Willis. Pada tanggal 16 Desember Tahun 1771 Masehi Kerajaan Blambangan di Serang kembali oleh VOC Belanda dengan Pimpinan Jendral Van Schaar dan kerajaan Blambangan di Pimpin olehRempeg Jogo Pati, VOC Belanda kalah Jendral Van Chaar tewas, yang dikenal sebagaiPerang Puputan dan hari serta tanggal bulan tersebut diperingati sebagai hari jadi Kabupaten Banyuwangi, hal ini sesuai dengan Babad Tanah Jawi, Serat Damar Wulan dan Serat Minak Jinggo th. 1815.
Pangeran Agung Willis ( Tahun 1771 M  ), disebut juga sebagai Mas Simo yang masih Kerabat dengan Kerajaan Mengwi, Bali, lahir dari Selir Pangeran Agung Dupati / Sinuhun Gusti Prabu Danu Ningrat menjadi keributan dan perebutan kekuasaan dikalangan Keraton Kerajaan Blambangan antara Putra Pangeran dari Permaisuri dengan Putra Pangeran dari Selir yaitu Pangeran Willis sehingga Kerajaan Blambangan menjadi lemah. hal ini sesuai dengan keterangan Guru Besar sejarah Dosen Universitas Gajah Mada DR. SRI MARGANA. Mei tahun 2011. Rempeg Jogo Pati, keturunan dari Raja Bayu - Bali lahir dari Selir Susuhunan Tawang Alun II dikenal sebagai Senopati Kerajaan Blambangan yang diperintah oleh Pangeran Agung Willis juga masih kerabat kerajaan Bali ini menobatkan diri sebagai Susuhunan Jaga Patih di Rowo Bayu, yang mana sebelumnya Kerajaan Blambangan berpusat di Lateng (sekarang Rogojampi.red), Rowo Bayu berada di kaki Gunung Raung, hutan Pinus pertemuan 3 mata Air, yakni Sendang Kaputren, Sendang Wiganga dan Sendang Kamulyan.
Pada bulan Oktober tahun 1772 VOC Belanda membalas kekalahannya Pada tahun 1771 Masehi  lalu dengan mengerahkan 1.500 Pasukan, sehingga Rakyat Kerajaan Blambangan  baik tua maupun muda hanya 8.000 orang hanya tersisa 2.000 orang saja, Kepala di Penggal dan digantungkan di Pohon - Pohon, Perang dan Pembuhunan Paling Sadis yang dilakukan Tentara VOC Belanda pada waktu itu terhadap Kerajaan Blambangan Banyuwangi Jawa Timur. VOC Belanda Setelah berhasil menghancurkan Kerajaan Blambangan mulai menjalankan Politik De Vide Et Impera, yaitu Politik Adu Domba dari Belanda yang sangat terkenal, dengan cara mengangkat Mas Dalem Wiro Guno anak dari Selir Tawang Alun II sebagai Bupati Blambangan Pertama, dengan Gelar Mas Alit KRT Wiroguno dan pada keturunan selanjutnya Blambangan memeluk Islam yang sebelumnya memeluk Hindu sehingga Bali lepas dengan Jawa, tetapi sebagian tentara Kerajaan Blambangan ada yang melarikan diri ke Bali lewat hutan Pinus alas Purwo sekarang ini. (Serat Kanda Abad ke 18.red).
Saat ini bekas Kerajaan Blambangan yang masih tersisa adalah Tembok Rejo salah satu Benteng Kerajaan Blambangan yang terletak didesa Tambak rejo. Pura Agung Blambangan didesa Tambak Rejo, 30 km Banyuwangi, Pura terbesar di Banyuwangi terdapat Umpak Songo, Nuur Tirta ( Air Suci ), Keraton Macan Putih di Kecamatan Kebat, Banyuwangi, Pura Mandra Giri Semeru Agung di Lumajang Jawa Timur, Stinggil sebagai Pos Pengawasan Pelabuhan, Sumur Tua dan Kolam di sekitar Pura Agung Blambangan, Sendang Keputren, Sendang Wiganga dan Sendang Kamulyan di Rogojampi Rowo Bayu kaki gunung Raung alas purwo Banyuwangi. Makam Kramat Mbah Rempeg Jogo Patih / Mbah Rembug di desa Bunder yang berasal dari kata Munder yaitu Buah bentuk seperti Apel dengan rasa Asam, lokasinya dekat dengan bekas Istana Tawang Alun. Makam keramat ini berbeda dengan Makam keramat lainnya yang membujur Utara Selatan, tetapi Makam Kramat Mbah Rempeg bentuknya membujur Barat Timur. Situs Raja Tawang Alun yaitu Candi Puncak Agung Macan Putih dan petilasan pertapaan Tawang alun di Kebat Banyuwangi dan Guci, Gelang serta Aksesoris.(***)

Sunday, August 30, 2015

Bantengan Kesenian Pacet Mojokerto

Inzert foto Kesnian Bantengan
Lintas Republik
1. Sejarah Kesenian Banteng Pacet Mojokerto
Lahirnya kesenian bantengan ada dua versi
a. Berasal dari kota Batu. Menurut catatan yang bersifat dari mulut ke mulut dimulai dari seorang tua bernama Pak Saimin berasal dari Batu seorang pendekar membawa kesenian ini dan bergabung dengan Pak Saman (kelompok Siliwangi) dari Pacet dan berkembang di Pacet sampai sekarang ini.
b.Berasal dari Pacet. Menurut cerita dari Pak Amir anak dari Mbah Siran yang menghidupkan kesenian Bantengan ini sampai sekarang di Claket. Akhirnya kesenian ini hidup subur sampai sekarang di Pacet dan Claket

Kedua versi itu sulit dilacak kebenarannya, mana yang lahir lebih dulu. Tetapi jelas sekali tempat yang terus melestarikan kesenian Bantengan ini adalah Pacet (sering mengadakan Festival Bantengan dan upacara tetap setiap memperingati hari kemerdekaan RI), cara swasembada layaknya kesenian tradisional lainnya di Indonesia. Kedua versi itu masuk akal kalau dihubungkan dengan geografi kedua kawasan itu. masih banyak terdiri dari hutan belantara dan gunung. Sudah tentu Bantengan itu identik dengan hutan.

Menurut cerita Pak Amir (tokoh Bantengan) dan beberapa tokoh bantengan yang lain, seni Bantengan ini asal mulanya dari seni persilatan yang tumbuh subur di surau-surau atau langgar (mushollah). Kesenian Bantengan ini awalnya untuk beladiri bagi pemuda di surau-surau. Tetapi akhirnya menjadi kegiatan seni untuk merayakan upacara perkawinan, sunatan atau bersih desa. Pemikiran manusia terus berkembang, begitu juga perkembangan kesenian termasuk seni “Kitch” atau seni bawah/ tradisional. Seni yang hidup turun temurun dari rakyat. Pencak silat itu akhirnya tidak banyak diminati masyarakat luas karena membosankan dan tidak menarik lagi. Para pendekar mencari alternatif lain agar kesenian itu diminati lagi. Begitu sederhana sekali perjalanan kesenian Bantengan ini.

Suatu ketika Mbah Siran dari Claket itu menemukan bangkai banteng yang tergeletak di tepi sungai Kromong tepi hutan. Konon kabarnya ini terjadi karena perkelahian dua ekor banteng. Seekor kalah dan mati menjadi bangkai. Supaya tidak mubazir oleh Mbah Siran bangkai banteng ini diambil khusus kepalanya (tengkoraknya) dibersihkan dan dibawa pulang. Kalau kepala menjangan untuk hiasan rumah, sampai sekarang masih banyak terdapat di rumah-rumah lama sebagai lambang atau simbol keberadaan seseorang, tetapi tengkorak banteng yang berkesan gagah dan berwibawa ini mengilhami Mbah Siran untuk melengkapi kesenian Bantengan yang tidak menarik lagi. Awalnya tengkorak itulah yang langsung diambil untuk dipakai sebagai “topeng” Bantengan itu melengkapi seni pencak silat dan akhirnya karena menarik, hanya Bantengan saja yang lestari sampai sekarang. Bantengan berdiri sendiri tanpa pencak silat lagi.

Akhirnya Bantengan ini menjadi cabang seni rakyat atau tradisional yang amat digemari masyarakat, meskipun sampai sekarang Pemerintah Kabupaten Mojokerto sendiri belum pernah ada usaha untuk mengangkat seni rakyat ini menjadi sebuah kebanggaan yang akhirnya bisa menjadi ikon untuk Kabupaten Mojokerto. Mereka hidup sendiri dan ini perlu ditangani secara lebih serius agar tidak tertatih-tatih berjalan sendiri tanpa penanganan yang jelas meskipun diam-diam ia telah mengangkat citra sebuah kota dalam bidang kesenian dan kebudayaan. Barangkali ini sebuah landasan pemikiran tentang sebuah IKON.

2. Bantengan Masa Sekarang
Group Bantengan di Kabupaten Mojokerto awalnya banyak sekali. Menurut catatan, dulu sampai sekarang ke daerah Gondang, Kutorejo dan Tlagan. Bahkan menurut berita dari mulut ke mulut ada juga yang masih hidup di daerah Pandan dan Wonosalam serta di kota kecil Dinoyo. Tetapi yang jalan sampai sekarang hanya Kec. Pacet dan Claket saja. Tak salah kalau banyak orang yang mengatakan bahwa Bantengan kesenian milik Pacet. Atau saling berebut antara kota Batu dan Pacet mana yang lebih dulu melahirkan Bantengan ini tetapi ini sulit dilacak kebenarannya. Mengapa demikian?
Barangkali memang benar kesenian ini dari sana dan secara geografis (Batu dan Pacet) masyarakatnya amat mendukung, hutan dan gunung. Masyarakat Pacet dan Claket memang merasa memiliki seni ini turun temurun yang di “leluri” sebagai penghargaan kepada penemu atau pencipta serta penerus sini Bantengan ini. Akhirnya topeng Bantengan yang awalnya dari tengkorak banteng asli diganti dengan topeng buatan yang dibuat dari kayu. Ditakutkan akan terjadi perburuan liar untuk menembak banteng, meskipun akhirnya banteng itu punah dengan sendirinya.
Seni Bantengan ini terdiri dari dua pemain yang berperan menjadi seekor banteng. Pemain depan dengan dua laki-laki bertugas menjadi dua kaki banteng di depan, dan kaki milik pemain yang lain bertugas sebagai dua kaki banteng bagian belakang. Tubuh banteng dibentuk dari selembar kain hitam yang menghubungkan kepala banteng dengan ekor banteng yang dimainkan oleh pemain yang di belakang
Kedua pemain harus kompak bermain. Bagaimana mereka harus bermain menjadi satu tubuh, satu jiwa, satu karakter, satu roh, layaknya pemain double dalam bulu tangkis Ricky Subagya dan Rexy Meinaky. Teknik mereka memaunkan Bantengan memang ada dasar-dasar tertentu. Meskipun sebagai seni tradisi yang bersifat seni perlawanan, rasa jiwa, spontanitas “berimprovisasi” layaknya dalam musik jazz ikut mendominasi gerakan-gerakan mereka. Kalau diuraikan secara teori menurut pakar Bantengan memang ada gerakan-gerakan tertentu, misalnya : langkah dua ekor banteng , laku lombo gedong, junjungan, geser, banteng turu (tidur), perang dengan macan (harimau) atau dengan naga, banteng nginguk (melirik), tubrukan dengan macan. Macan pun punya gerakan begitu, juga gerakan pendekar.
Sekarang Bantengan pun tidak sja hanya banteng, tapi bisa juga melibatkan beinatang-binatang lain penghuni hutan (disbet buron alas). Menurut cerita mereka (penggarap Bantengan), banteng adalah simbol pengayom atau pelindung binatang-binatang lain di hutan. Ini sebuah proses panjang yang tidak bisa kita ketahui di mana mereka akan bermuara, karena pemikiran manusia itu terus berkembang (misalnya perkembangan pementasan wayang Purwo atau wayang Kuli), beladiri lewat persilatan, kemudian berubah menjadi Bantengan. Banteng musuh banteng, akhirnya banteng melawan macan, melawan ular naga, melawan kera dan melawan binatang-binatang lain (buron wana). Ini semua karena tuntutan untuk lebih menarik bagi para penonton saja.
Di tahun 2008 kebetulan penulis memiliki kesenian di Desa Kesimantengah Kec. Pacet yang bernama Cakra Buana Sakti. Dengan adanya kesenian ini terbukti banyak peminat dari banyaknya penjual VCD bantengan dengan omset yang cukup besar. Dan tiap tahun selalu diadakan karnaval memperingati kemerdekaan RI. Banteng mungkin melawan harimau atau macan (masih ingat lukisan R. Saleh tentang banteng melawan harimau) simbol bangsa Indonesiamelawan kolonialisme Belanda. Atau banteng melawan ular naga (simbol dari angkara murka) dan ini mungkin lebih menarik karena gerakan ular naga sendiri pasti lebih artistik dan atraktif apalagi saat melawan banteng. Banteng bukan milik PDI atau partai-partai lain. Kita harus berpikir bersih dan bening demi seni dan bangsa serta kemanusiaan.
Pakaiannya barangkali bisa lebih digarap lagi supaya warna hitam (tubuh banteng) yang dominan adalah warna dasar yang akan lebih hidup. Ketika “uborampe”nya digarap mulai dari topeng, tubuh banteng dengan ornamen warna Mojopahit untuk menghias kepala banteng, tubuh banteng serta pakaian pendekar atau penabuh gamelan pasti akan lebih menarik lagi (warna gula kelapa) terasa ada garapan. Untuk musik barangkali tak perlu mendapat pembenahan yang mendasar karena musik yang terdiri dari gendang, jidor, gong. Kethe sebagai melodi sudah bisa mewakili bunyi serta ritme yang diharapkan oleh penabuh dan pemain bantengannya. Kalau toh ada pembenahan bisa ditambah lagi dengan yang lain tetapi tidak mengurangi esensi gamelan atau musik yang berangkat dari seni silat ini, misalnya terbang atau ceng-ceng (dari Bali) karena Mojopahit dan Bali masih ada ikatan emosionalnya dan sedikit gamelan yang rancak dan atraktif. Biasanya bunyi gamelannya berlaras slendro (kebanyakan musik atau gamelan Mojokerto atau Jawa timur). Akhirnya Bantengan ini menjadi sesuatu yang khas dan kemungkinan akan diminati oleh masyarakat lebih luas seperti seni-seni kitch yang lain: Reyog (Ponorogo), Glipang (Probolinggo), Remo (Surabaya), Topeng (Malang dan Madura), Jangger(Banyuwangi), Ririmau (Palembang), Ondel-ondel (Jakarta) dan Bantengan dari Mojokerto.

Makna Filosofis Seni Bantengan
Sebenarnya kota kecil Pacet kurang lebih 30 km dari kota Mojokerto ke arah selatan sudah terkenal sejak zaman Belanda. Di samping udaranya yang sejuk dan banyak dikunjungi orang kota, ada juga sebuah cabang kesenian rakyat bahkan sudah mentradisi sampai sekarang. Kesenian itu sangat atraktif yang disebut Bantengan. Cabang kesenian ini sering pentas/ pagelaran menghibur masyarakat dalam kegiatan hajatan , ruwatan desa, sunatan, pernikahan terutama untuk memperingati hari kemerdekaan Indonesia. Jenis kesenian ini amat digemari masyarakat kabupaten Mojokerto meskipun keberadaannya tergantung pada kesetiaan dan kecintaan group itu sendiri. Tidak jarang mereka bermain hanya dihargai dengan nilai uang kurang memadai. Bahkan lebih sering secara gratis. “Kesenian banteng adalah bagian hidup kami”, kata Cak Amir pemimpin Bantengan asal Claket Pacet mojokrto. Sebagaimana kakek dan bapaknya dulu (Mbah Siran), Amir mulai mencintai Bantengan sejak masih anak-anak. Alasannya dia mengikuti cabang kesenian sekaligus ikut olahraga pencak silat yang banyak berkembang di surau-surau setempat. Jumlah group Bantengan yang berada di wilayah kecamatan Pacet sampai sekarang ini diperkirakan berjumlah 17 group yang tersebar di desa-desa Claket, Kambengan, Cempoko Limo, Made, Barakan dan lain-lain.
A. Asal-usul
Pada awalnya Bantengan Cuma sebagai pelengkap kesenian rakyat pencakcak silat. Akhirnya Bantengan menjadi sebuah tontonan sendiri. Kalau memiliki Bantengan berarti pencak silat, tapi kalau memiliki pencak silat belum tentu memiliki Bantengan. Asal-usul Bantengan ini konon bermula dari Pacet atau Claket sebagaimana diungkapkan di atas. Namun ada yang mengatakan dari kecamtan Jatirejo dan kecamatan Trawas. Boleh jadi karena daeradaerah saat itu masih terdiri dari hutan liar yang banyak dihuni binatang banteng. Sehingga binatang ini menjadi maskot yang akhirnya melahirkan kesenian tersebut. Salah seorang tokoh Bantengan yang kini sudah almarhum adalah Mbah Siran dari desa Claket Pacet. Sebagai mandor hutan di zaman Belanda, Mbah Siran terkenal sebagai pendekar penvak silat yang energik, segar, menarik dan atraktif. Semenjak Mbah Siran menemukan bangkai banteng yang tergeletak di tepi hutan segera dibawa pulang, dibersihkan tengkoraknya saja. kalau kepala menjangan untuk hiasan rumah (sampai sekarang masih ada rumah berhiaskan kepala menjangan sebagai lambang atau keberadaan seseorang), tetapi tengkorak banteng yang terkesan gagah dan berwibawa mengilhami Mbah Siran untuk melengkapi kesenian pencak silat yang tidak menarik lagi. Awalnya tengkorak itulah yang dipakai langsung untuk topeng Bantengan melengkapi seni pencak silat. Dari Mbah Siran itulah Bantengan mulai diperkenalkan ke masyarakat luas sehingga tontonan pencak silat lebih kaya variasi. Saat itu pencak silat hanya terdiri atas “kembangan” stelan, perkelahian bebas dengan tangan kosong, clurit, kayu dan tombak. Tabuhannya (iringan musik) seperangkat gamelan atau berupa dua buah ketipung, jidor, theng-theng, rebana yang dipukul dengan “gothik" (potongan kayu). Setelah diikutsertakan dalam pencak silat, tontonan itu menjadi tontonan dengan istilah baru “Bantengan”. Kalau mengadakan tontonan di tempat tertentu Bantengan ini masih lengkap dengan pencak silat. Tapi kalau diundang untuk meramaikan karnaval atau pawai hanya Bantengan saja yang dimainkan. Pemain yang memainkan Bantengan ini dikendalikan oleh dadungawuk atau pawangnya. Gerakan mereka atraktif dan amat dinamis apalagi diiringi tabuhan yang berkesan magis. Tidak jarang permainan ini menjadi liar dan berkesan buas apalagi kalau pawangnya tidak mahir. Penerus Mbah Siran adalah Cak Amir tak beda dengan kakek dan bapaknya adalah seorang pendekar dan pemimpin sekaligus.

A.Seni Bantengan dalam Konteks Olahraga
Akal yang sehat terletak pada badan yang sehat, demikian sebuah pepatah. Untuk dapat memainkan Bantengan perlu adanya pikiran yang sehat sehingga bisa mengendalikan permainan serta badan yang sehat agar gerak danlaku yang diperankan bisa sempurna. Ada dasar-dasar olahraga yang perlu dipersiapkan dalam olahraga yang perlu dipersiapkan dalam pola seni Bantengan ini antara lain : kaki yang kuat dalm kuda-kuda, kekekaran dan kesehatan tubuh, kelenturan dalam gerak langkah, serta pernafasan yang panjang. Untuk memenuhi hal itu diperlukan latihan yang rutin dalam bidang olahraga. Olahraga yang membudaya waktu itu adalah seni beladiri masyarakat Jawa yang lebih dikenal dengan pencak silat. Setelah diteliti olahraga ini hanya dimiliki pada budaya Jawa.

B. Seni Bantengan dalam Konteks Olah Hati
Jika kita mendalami budaya, maka banyak cara yang dilakukan oleh nenk moyang kita dalam mendekatkan diri pada Tuhan dengan cara meditasi, semedi, tapa brata, yoga dan lain-lain yang intinya ingin mendapatkan kesempurnaan hidup sampai manunggaling kawula lan Gusti. Setiap manusia tentu ingin mendapatkan kesempurnaan hidup. Salah satu unsur kesempurnaan hidup adalah efektiknya (tulus ikhlas) permintaan kepada Tuhan. Untuk bisa efektif permintaan pada Tuhan diperlukan latihan olah rohani yang dilandasi olah nafas/ tenaga dalam. Sesungguhnya hampir semua agama mengajarkan cara ini, hanya saja metodenya yang berbeda. Dalam dunia persilatan cara ini banyak dilakukan apakah perguruan modern maupun tradisional. Untuk memerankan peran dalam kelompok seni Bantengan tentu semua ingin melakonkan atau memainkan dengan sempurna. Untuk melakukan dengan sempurna maka olah dan gerak nafas dapat dilakukan antara lain:
1. Konsentrasi memohon kepada Tuhan
2. Menarik nafas panjang dilepas pelan-pelan sambil berdoa mohon sesuai dengan yang diinginkan.
3. Dilakukan terus-menerus sampai mendapatkan langkah dan gerak otomatis menuju kesempurnaan yang dimainkan. Dengan cara ini meskipun keanyakan orang melihat kesurupan, tetapi pada dasarnya adalah permainan untuk mengecoh pengunjung agar puas serta sebagai alat perjuangan agar tidak terjerat oleh hukum karena dianggap kesurupan (gila)

C. Seni Bantengan dalam Konteks Mistik
Budaya nenek moyang kita dalam setiap kegiatan spiritual dan ritual biasanya menggunakan wangi-wangian. Contohnya pada saat “keleman” di sawah diberi sesaji yang diperuntukkan untuk Dewi Sri berupa cikal bakal yang di dalamnya ada unsur wewangian (bunga) memberikan sandingan, dipersembahkan pada waktu punya hajat, sesajen Malam Jumat unsur wewangian tidak aka terlepas. Tradisi semacam itu di dalam agama merupakan bagian dari ibadah, maka dicari unsur wewangian yang seakan identik dengan mistik. Langkah ini dilakukan untuk mengecoh Belanda seakan-akan pemain Bantengan berbuat musyrik. Dengan menggunakan sarana kemenyan (lokal, Arab) dupa, candu atau minyak wangi. Agar murah meriah biasanya memakai kemenyan lokal ditambah minyak wangi, baunya semerbak menyengat. Dengan unsur kepura-puraan pula seakan mendatangkan roh halus sehingga pemain seni Bantengan kesurupan, padahal ia bisa memainkan seni Bantengan bukan karena kesurupan. Karena didukung bau wewangian sehingga mampu menunggaling kawula lan Gusti akhirnya keberhasilan yang diharapkan dalam memainkan seni peran dapat dikabulkan oleh Tuhan.

Sejarah Terbentuknya Pulau Jawa

Hasil gambar untuk peta pulau jawa
Lintas Republik
Sebuah teori geologi kuno menyebutkan, proses terbentuknya daratan yang terjadi di Asia belahan selatan adalah akibat proses pergerakan anak benua India ke utara, yang bertabrakan dengan lempengan sebelah utara. Pergerakan lempeng bumi inilah yang kemudian melahirkan Gunung Himalaya.
Konon, proses tersebut terjadi pada 20-36 juta tahun yang silam. Anak benua yang di selatan sebagian terendam air laut, sehingga yang muncul di permukaan adalah gugusan-gugusan pulau yang merupakan mata rantai gunung berapi. Gugusan pulau-pulau di Asia Tenggara, yang sebagian adalah Nuswantoro (Nusantara), yang pada zaman dahulu disebut Sweta Dwipa. Dari bagian daratan ini salah satunya adalah gugusan anak benua yang disebut Jawata, yang satu potongan bagiannya adalah pulau Jawa.Jawata artinya gurunya orang Jawa. Wong dari kata Wahong, dan Tiyang dari kata Ti Hyang, yang berarti keturunan atau berasal dari Dewata. Konon karena itulah pulau Bali sampai kini masih dikenal sebagai pulau Dewata, karena juga merupakan potongan dari benua Sweta Dwipa atau Jawata.

Mengingat kalau dulunya anak benua India dan Sweta Dwipa atau Jawata itu satu daerah, maka tidak heran kalau ada budayanya yang hampir sama, atau mudah saling menerima pengaruh. Juga perkembagan agama di wilayah ini, khususnya Hindu dan Budha yang nyaris sama.

Versi mistis :
Pulau terbesar dengan penduduknya paling banyak di seluruh Indonesia ini, tidak menyangka, kalau dahulunya adalah pulau terkecil dan terpecah-belah oleh persilangan laut antara utara dan selatan.

Kisah dipersatukannya seluruh pulau yang terdapat di berbagai pulau Jawa, akibat dari kesaktian yang dimiliki oleh Brahmana Agung bernama Shang Hyang Dewa. Konon dengan kesaktian beliau, pulau itu ditarik satu persatu menjadi pulau terbesar dan dinamakan Bumi Ing Jowo Dwipo.

Semasa pulau ini belum terjamaah oleh manusia, para siluman dari bangsa seleman dan togog telah lebih dulu menduduki hingga ribuan tahun lamanya. Masa itu pulau Jawa disebut dengan nama Mokso Seleman (zaman para lelembut).Namun setelah keturunan dari Shang Hyang Nurasa menduduki bumi Jawa (Shang Hyang Dewa) pulau itu disebut dengan nama bumi pengurip (bumi yang dihidupkan). Shang Hyang Dewa akhirnya moksa di puncak Gunung Tidar, setelah beliau menyatukan berbagai bangsa lelembut untuk menuju jalan Adil (kebenaran), dan dari keturunannya.

Terlahir pula para Shanghyang Agung, seperti Shanghyang Citra Suma, Shanghyang Dinata Dewa, Shanghyang Panca Dria, yang akhirnya dari merekalah sebuah titisan atau wasilah turun-temurun menjadi kerajaan teragung yang absolut.

Baru diabad ke 12, pulau Jawa diperluas dengan tiga aliran yang berbeda, yaitu dengan adanya ajaran Hindu, mokso Jawi dan Islam. Akhir dari ketiga aliran tersebut nantinya menjadi suatu perlambang dari perwatakan penduduk pulau Jawa hingga sekarang ini.

Dalam perluasan arti ketiga diatas, mencerminkan sebuah kehidupan bermasyarakat gemah ripah loh jinawi. Konon ajaran ini hanya ada dipulau Jawa dan seterusnya menyebar ke seluruh pelosok yang ada di Indonesia, seperti ajaran Hindu misalnya, ilmu yang diajarkan oleh para Shanghyang Dewa, ilmu, sebagai aji rasa manunggaling agung.

Lewat bait sansekerta Yunani yang mengupas di dalamnya, kebenaran, keadilan, kejujuran dan memahami sifat alam. Ilmu ini akhirnya diturunkan oleh bapaknya para dewa. Raden Nurasa kepada Nabiyullah Khidir a.s. dan dizaman Wali Songo nanti, ilmu ini dipegang dan menjadi lambang dari sifat kependudukan masyarakat Jawa oleh tiga tokoh Waliyullah, yaitu Sunan Kalijaga, Mbah Cakra Buana dan Khanjeng Syekh Siti Jenar.

Moksa jawi sendiri, sebuah ilmu yang mengupas tentang kedigdayaan ilmu yang bersumber dari raja lelembut, bernama raja lautan. Ini sangat berperan dan menjadi salah satu perwatakan masyarakat Jawa. Konon ajaran
yang tergabung di dalamnya mengajarkan arti tirakat, mencegah hawa nafsu dan memahami makna rohani, simbol dari ajaran ilmu ini digambarkan sebagai bentuk keris.

Keris menjadi suatu perlambang dari ajaran orang Jawa, bermula dari seorang Empu, bernama Ki Supo Mandragini. Beliau salah satu santri dari Khanjeng Sunan Ampel Denta yang diberi tugas untuk membuat sebilah keris. Namun rupanya, pemahaman dari sang guru dan murid ini saling berseberangan, disisi lain Sunan Ampel menginginkan sebuah pusaka berupa sebilah pedang sebagai perlambang dari makna Islam. Namun ketidaktahuan Ki Supo Mandragini sendiri, akhirnya beliau membuat sebilah keris berluk 9.

Keris tersebut menjadi penengah antara ajaran Islam dan Hindu bagi orang Jawa, dengan sebutan Islam Kejawen, dan keris pembuatan Ki Supo diberi nama Kyai Sengkelat. Dari kedua aliaran diatas, Islam telah ada di pulau Jawa sejak abad ke 9. Ajaran ini dibawa dari kota Misri oleh seorang Waliyullah Kamil Syekh Sanusi dan muridnya Muhammaad Al Bakhry, dan baru masyhur tentang ajaran Islam di pulau Jawa pada abad 13 dan 14 atau zamannya para Wali Songo.

Pembedaran lain dari keunikan yang terdapat di pulau Jawa pada masa itu, 300 tahun sebelum Wali Songo mendudukinya, para Shanghyang maupun bangsa lelembut seleman telah mengetahui lewat sasmita gaib yang mereka terima, bahwa sebentar lagi pulau Jawa akan dibanjiri para pemimpin makhluk dari berbagai negara.

Mereka dari seluruh alam berkumpul, berdiskusi di puncak Gunung Ciremai, pada masa itu mereka mufakat untuk mengabdi dan membantu, apabila para Waliyullah telah menduduki pulau Jawa. Namun tentunya tidak semua dari mereka setuju, sehingga perpecahan dari dua kubu yang berseberang jalan itu dinamakan Getas Kinatas (terpecahnya satu keluarga atau satu keturunan).

Nanti pada akhirnya tiba, dari Shanghyang Rowis Renggo Jenggala, akan menurunkan beberapa keturunan Saktineng Paku Jawa (orang-orang sakti yang menjdi penguasa pulau Jawa) diantaranya:

- "Arya Bengah" yang menurunkan para putera Majapahit dan keturunannya sampai putera Mataram.

- "Ciung Wanara" yang menurunkan Lutung Kasarung hingga sampai ke silsilah Prabu Agung Galuh atau yang dikenal dengan nama Prabu Munding Wangi atau Prabu Siliwangi.

- "Nyi Mas Ratu Ayu Maharaja Sakti" menurunkan beberapa keturunan berbagai alam diantaranya "Ratu Palaga Inggris, seorang puteri cantik dari bangsa manusia, yang akhirnya dikawin oleh Prabu Siliwangi.

- "Kerta Jasa" maharaja sakti.

- "Sang Kowelan" salah satu anak dari Ratu Palaga Inggris yang berjenis bangsa lelembut, dari beliau pula ucuk umun dan Ratu Kidul dihasilkan.

- Dari "Syekh Sanusi" melahirkan ratusan Waliyullah kondang, diantaranya para Wali Irak, Yaman, Mesir, Turky, dan para Wali Jawa.

Untuk yang berseberangan atau getas kinatas, sebagian dari mereka memilih ngahyang (raib) dan tak pernah muncul lagi dipermukaan bumi dan sebagian lagi mereka mengabdi dengan lewat menjaga semua alam di pulau Jawa.

Diantara yang mengabdi adalah :
- Sih Pohaci, beliau menjaga awan dan langit.
- Sih Parjampi, beliau selalu menjaga bumi dan bertempat pada lapisan bumi nomor dua.
- Sang Sontog, menjaga semua gunung pulau jawa.
- Sang Waluhun, menjaga pantai utara dan selatan.
- Sih Walakat, menjaga seluruh hutan dan pepohonan.
- Sangkala Brahma, menjaga bumi Cirebon.
- Sangkala Wisesa, menjaga bumi Mataram.
- Janggala Putih, menjaga bumi Bogor.
- Sang Lenggang Lumenggang Gajah, menjaga bumi Jakarta.
- Sang Seda Hening, menjaga bumi Banten.

Dan pengguron atau perguruan para purwa, Wali Jawa, diantaranya;
Perguruan, penatas angin Pekalongan.
Perguruan, Agung Waliyullah Ki Bagus Santo Pekalongan.
Perguruan, Pandarang Semarang.
Perguruan, Jambu Karang Purwokerto.
Perguruan, Daon Lumbung Cilacap, dan lain-lain.
(***)

Tips Menjaga Daya Tahan Tubuh Agar Selalu Sehat

Hasil gambar untuk tips sehat
Memiliki tubuh yang sehat merupakan keinginan setiap orang termasuk anda. Dengan tetap sehat, mka aktivitas yang kita lakukan bisa berjalan lancar dan sesuai dengan harapan kita. Dengan Sehat pula, maka kita tidak harus mengeluarkan waktu dan biaya untuk membeli obat atau pergi ke rumah sakit. Jadi kita harus selalu bersyukur dengan nikmat kesehatan yang di berikan Tuhan YME kepada kita semua. Ada berbagai tips yang berhubungan dengan kesehatan dan daya tahan tubuh. Lalu, apa saja tips menjaga daya tahan tubuh agar selalu sehat tersebut...???

Ukuran sehat yaitu ketika kita mampu menjaga daya tahan tubuh dari serangan penyakit yang selalu menerpa seperti penyakit demam, flu, batuk dan lain-lain. Lalu bagaimana kita bisa menjaga daya tahan tubuh yang benar agar selalu sehat dan bugar setiap hari....???

Berikut ini tips kesehatan yaitu tips menjaga daya tahan tubuh agar selalu sehat :

Cukup Istirahat
Istirahat yang cukup setiap harinya, merupakan salah satu faktor untuk menjaga daya tahan tubuh anda.

Berpikir Positif
Di dalam tubuh yang sehat terdapat pikiran yang tenang dan sehat juga. Maka usahakan selalu berpikiran positif terhadap segala masalah yang menerpa kita.

Rutin Berolahraga
Setiap pagi, usahakan selalu melakukan olahraga secara teratur. Ini bertujuan untuk menjaga kondisi tubuh agar selalu bugar dan sehat.

Kebersihan Makanan
Selalu memastikan bahwa makanan yang anda makan sudah higienis atau sudah di cuci dengan bersih atau dimasak dengan matang yang sempurna.

Kontrol Makanan
Makanlah dengan porsi yang wajar jangan berlebihan. Di khawatirkan badan anda akan mengalami kegemukan dan riskan terkena penyakit yang terkait dengan kegemukan atau obesitas.

Makanan Berserat
Penuhi makanan yang berserat setiap harinya. Makanan yang berserat yaitu apel, wortel maupun kacang-kacangan. Fungsi makanan berserat ini yaitu menjaga tubuh dari serangan bakteri.

Vitamin D
Penuhi kebutuhan vitamin D. Karena vitamin D ini berfungsi untuk menstimulus sel imun untuk menghalau virus dan bakteri. Vitamin D dapat ditemukan pada sinar matahari, telur, hati dan ikan. 


 Salam sehat

Modus Penipuan Cek Milyaran Marak Di Mojokerto



Mojokerto,LintasRepublik
Penipuan dengan modus cek palsu saat ini marak di Mojokerto, Seperti yang menimpa Andi Susilo – warga Gedangan Sidoarjo, Akibatnya ia kehilangan uang senilai Rp 5 juta rupiah.
Kejadian ini bermula ketika Hari minggu kemarin, Andi menemukan selembar cek senilai Rp 2 Miliar rupiah, beserta nomor HP pelaku. Namun setelah nomor itu dihubungi, Andi justru diperas.

Iptu Sariyanto Kassubag humas Polres Mojokerto mengatakan, awalnya Andi menemukan cek palsu itu di pinggir jalan raya Mojosari, kemudian ia menghubungi nomor yang tertera di cek itu, atas nama Agung Jaya sakti. “Dalam percakapannya, jika Andi mengembalikan cek itu, akan diberi imbalan Rp 50 juta. Kemudian Andi diminta datang ke ATM mandiri, untuk menerima trasferan, tapi ternyata Andi tidak menerima uang itu, malah saldo tabungannya berkurang Rp 5 juta rupiah,” terangnya.

Kejadian yang sama juga terjadi di kecamatan Pacet Mojokerto,dimana sebuah amplop berisi cek 2 milyard di temukan oleh seorang warga dusun Pacet Selatan (Abi Tsani.red*) ketika hendak pergi ke masjid untuk menjalankan sholat shubuh. Akan tetapi warga tersebut tidak sampai mengalami kerugian apapun seperti yang telah di alami Andi,karena di ketahui ada kejanggalan pada cek tersebut.

Kassubag Humas Polres Mojokerto menghimbau kepada semua masyarakat agar hati-hati ketika menemukan cek dipinggir jalan, karena bisa saja cek itu palsu dan merupakan modus pelaku penipuan. Saat ini kasus yang di alami Andi S sudah ditangani Polres Mojokerto.(fan)

Acara Pemberangkatan 1.235 Jamaah Calon Haji Mojokerto

Mojokerto,LintasRepublik
Total 1.235 orang Jamaah Calon Haji (JCH) Kabupaten Mojokerto 1436 H Tahun 2015, resmi diberangkatkan oleh Bupati Mustofa Kamal Pasa dari Pendopo Graha Maja Tama Kabupaten Mojokerto, Kamis 20 Agustus 2015. Pelepasan sendiri dilakukan oleh Bupati, ditemani Sekretaris Daerah Hery Suwito, Ketua DPRD Kabupaten Mojokerto Ismail Pribadi, anggota Forkopimda, Ketua Tim Penggerak PKK Ikhfina Mustofa Kamal Pasa, SKPD, serta Camat se-Kabupaten Mojokerto. “Syukur Alhamdulillah, jumlah JCH asal Kabupaten Mojokerto tahun ini terbilang cukup banyak. Saya bangga, karena secara tidak langsung hal ini menjadi indikasi bahwa kondisi ekonomi masyarakat stabil. Jumlah JCH tahun ini semoga menjadi cermin kesadaran akan iman dan taqwa (imtaq) masyarakat Mojokerto, mengingat menunaikan haji ke tanah suci adalah salah satu rukun iman dalam agama Islam”, tutur Bupati dalam sambutannya.

            Bupati menyatakan kesiapan dan dukungannya kepada seluruh JCH Kabupaten Mojokerto tahun ini, dengan pemberian bantuan bersifat formal atau non-formal. Antara lain mengadakan pembinaan dan pemantapan manasik haji. Transportasi keberangkatan dan kepulangan, akan diakomodir sepenuhnya oleh pihak Pemkab Mojokerto.  
        Kasi Haji Kementrian Agama Kabupaten Mojokerto, H. Mukti Ali, secara resmi memberikan informasi keberangkatan haji yang dijadwalkan jatuh pada tanggal 1 September 2015 mendatang. Ia menghimbau bagi seluruh JCH agar membuat persiapan matang menjelang hari keberangkatan yang tinggal menghitung hari. “JCH Kabupaten Mojokerto sebanyak total 1.235 orang akan resmi berangkat pada tanggal 1 September 2015. Para calon harus sudah mempersiapkan kondisi fisik dan mental dengan baik”, infonya.
            Acara pelepasan ini juga ditambahi siraman rohani oleh K.H. Imam Hambali dari Surabaya yang menyampaikan tausyiah guna memperkuat keimanan para calon jamaah yang hadir di Pendopo Graha Majatama. Tausyiah ini merupakan bagian dari penguatan mental spiritual. K.H. Imam Hambali menekankan  pentingnya membersihkan diri, dan menjaga hati dari segala macam kedengkian dan sifat yang tidak baik.
            “Ibadah haji ibarat perjalanan menuju ‘pembalasan kecil’ atas segala perbuatan yang dilakukan dalam hidup sehari-hari. Menjaga diri dan hati akan mampu menyelematkan kita di tanah suci nantinya, Insyallah”, ucap K.H. Imam Hambali.
            Di akhir acara Bupati sekali lagi mewanti-wanti para calon jamaah agar tetap menjaga kesehatan fisik dengan menjaga pola makan dan istirahat yang cukup, mengingat tanah suci adalah tempat suci berkumpulnya jutaan umat Islam dalam satu tempat. Terlebih isu penyakit endemik dan virus yang berpotensi menjangkiti jamaah, para petugas dan pendamping jamaah haji harus bisa berkoordinasi dan menyampaikan segala informasi dengan jelas dan terarah kepada jamaah.
            “Semakin padatnya kondisi di Madinah dan Makkah, kami juga menghimbau petugas haji Indonesia untuk terus meningkatkan pelayanan, mengikuti pergerakan dan menjaga keamanan jamaah. Koordinasi terarah harus selalu dilakukan agar ibadah berjalan lancar. Sekali Saya berdoa agar semua JCH 2015 usai menjalankan ibadah nanti, Insyallah menjadi haji yang mabrur” tutupnya dalam acara.*(hum)

Diba’ Kubro Ambil Bagian Membentuk Mental Spiritual


Mojokerto,LintasRepublik
Pemerintah Kabupaten Mojokerto dalam komitmennya untuk terus memperkuat sendi-sendi mental spiritual, menggelar acara Diba’ Kubro bersama fatayat se-Kecamatan Pungging, yang digelar di Pendopo Kecamatan Pungging, Minggu 30 Agustus 2015 pagi, Silaturahmi, do’a dan ngaji bersama tersebut dihadiri Bupati Mojokerto, Mustofa Kamal Pasa dan beberapa undangan dari kalangan tokoh masyarakat Kecamatan Pungging serta perangkat Muspika. Agenda penguatan mental spiritual seperti ini, sudah sejak lama menjadi program Bupati yang akan diharapkan mampu berjalan beriringan dengan tata kelola pemerintahan yang baik. Ia menuturkan bahwa visi misi penguatan mental spriritual Kabupaten Mojokerto adalah mutlak dibutuhkan.
            “Diba’ Kubro punya andil dan bagian dalam pembentukan mental spiritual. Saya harap para camat turut kooperatif terhadap lancarnya sendi-sendi penguatan mental spiritual Kabupaten Mojokerto, dengan terus membuat dan merencanakan program sejenis secara berkala sebagai suatu agenda rutin. Kita berdoa agar kegiatan keagamaan terus berjalan secara kontinyu, dan menjadi getok tular di semua daerah/kecamatan yang ada di Kabupaten Mojokerto”, lontar Bupati.
            Kehidupan modern telah membuat banyak orang terjebak pada materialisme, dimana segala sesuatu diukur dengan materi. Pemenuhan kebutuhan dianggap cukup jika jasmani telah mendapatkan apa yang diinginkannya. Sementara itu, rohani menjadi sesuatu yang kurang mendapatkan perhatian. Berangkat dari simpulan ini salah satunya, Pemkab Mojokerto getol menekankan pentingnya penguatan mental spiritual di segala aspek.
            Ratusan ibu-ibu jamaah Diba’ Kubro yang memadati area pendopo Kecamatan Pungging turut larut dalam lantunan doa dan Shalawat bersama. Bupati dalam sambutannya juga mengapresiasi antusias para jamaah Diba’ Kubro yang sadar akan pentingnya meningkatkan nilai keimanan dengan cara terus ‘berjalan mendatangi’ pintu-pintu amal yang terepresentasikan oleh gelaran acara-acara ngaji bareng penuh manfaat Diba’ Kubro bersama yang tengah berlangsung.
            Bupati dalam acara sedikit menghimbau agar pengurus kegiatan (baik dari perangkat desa dan kecamatan yang bersangkutan), berkomunikasi intensif dengan Pemkab Mojokerto terkait koordinasi rancangan agenda pengayaan mental spiritual yang ditargetkan dapat terus dilaksanakan ke depannya.
            “Komunikasi pengurus dengan Pemkab Mojokerto, Saya harap bisa berjalan dengan baik. Komunikasi dua arah harus terpelihara, karena untuk menyusun agenda-agenda besar keagamaan diperlukan koordinasi matang.Brainstorming atau pemetaan yang tersusun, cukup siginfikan perannya sebab sistem pemerintahan yang cukup rumit akan membuat proses-proses yang diperlukan memakan waktu”, ucap Bupati.*(Humas Protokol)  

Search