Tugu-tugu seperti di Dlanggu dulu dibangun untuk memberi tanda bahwa disekitar tempat itu pernah terjadi peristiwa sejarah pada masa perjuangan kemerdekaan
Mojokerto,LR
Tugu berbentuk peluru itu
berdiri di pertigaab pasar Dlanggu Mojokerto.
Bentuk fisiknya tidak terlalu tinngi, sekitar 3 meteran, tetapi terlihat
mencolok karena warna merah diujungnya. Secara umum terdiri dari 3 bagian,
yaitu fondasi bawah, bagian tengah dan ujung yang berbentuk proyektil peluru.
Sekarang ini dia bagiannya telah hilang, yang ada tinggal bagian fondasinya.
Konon terpenggal sebab ditabrak truk.
Pada masa lalu, tugu
semacam itu banyak terdapat di Mojokerto. Setidaknya pernah ada di pertigaan
pasar Brangkal dan pertigaan Lengkong Trowulan. Tugu-tugu itu dibangun untuk
memberi tanda bahwa disekitar tempat itu pernah terjadi peristiwa sejarah pada
masa perjuangan kemerdekaan. Tujuannya agar orang tetap mengenang akan jasa
para pahlawan, khususnya mengenang mereka yang terlibat dalam peristiwa di
tempat itu. Kini, tugu-tugu itu banyak yang hilang. Hilang karena ditabrak,
seperti di Dlanggu, atau karena dihilangkan oleh pembangunan, contohnya di
brangkal dan Lengkong.
Tugu Peluru Dlanggu
dibangun untuk memperingati pertempuran seru pada tahun 1947, kalo tidak salah
tanggal 12 Pebruari 1947. Pada hari itu, pasukan komando Hayam Wuruk yang
terdiri dari Batalyon Mansyur Sholikhi (Hizbullah), Batalyon Moenasir
(Hizbullah), Batalyon Bambang Yuwono dan Batalyon Tjipto dikepung oleh tentara
Belanda. Para pejuang bertarung untuk bisa lolos dari kepungan lawan.
Perjuangan meloloskan diri tersebut meminta korban yang tidak sedikit. Banyak
anggota batalyon yang hilang, entah meninggal dalam pertempuran atau tidak bisa
kembali berkumpul dalam kesatuannya.
Dalam pengepungan itu,
Tentara Belanda menggunakan taktik yang tidak lazim. Oleh Tentara Belanda,
rakyat sekitar dlanggu dipaksa berbaris dan berjalan maju menuju basis
pertahanan tentara republik. Di belakang rakyat itu tentara Belanda
mengikutinya dengan pasukan kavaleri dan infantrinya. Taktik semacam itu
sekarang kita kenal dengan "Tameng Hidup". Dengan cara semacam itu,
tentara RI menjadi bimbang untuk menembak karena yang terlihat adalah barisan
rakyat yang berjalan dibawah todongan senapan penjajah.
Pertarungan menjadi tidak
imbang karena Belanda membombardir posisi pejuang dengan artileri berat dan
kanon dari tank-tanknya. Belanda menggiring pejuang dengan jepitan dario
berbagai penjuru. Pasukan lawan berbaris dalam posisi menyerang dari arah
Mojosari, Pugeran, Pacet dan Trawas. Pertempuran tidak seimbang terjadi dan
tembak menembak berlangsung mulai pagi hingga larut malam. Dalam kegelapan
malam, para pejuang berhasil lolos dan bergerak menuju Dinoyo.
Korban dalam pertempuran
hari itu terbilang besar. Kesaksian Almaghfurllah Abah Yat menyatakan bahwa
ratusan orang meninggal. Mereka tergeletak di jalanan. Korban dari kalangan
tentara juga tidak sedikit. Dua Batalyon Hizbullah, yaitu batalyon Moenasir dan
Mansyur Sholikhi porak-poranda. Kapten Majid Asmara, kepala staf batalyon dan
Mat Yatim, komandan kompi gugur di sekitar jembatan Ngembeh Dlanggu. Mereka
berdua adalah orang dari 500 orang yang pernah mengikuti pelatihan militer
Hizbullah di Cibarusa.(*)

No comments:
Post a Comment