Koran Republik News

Thursday, October 8, 2015

Tugu Peluru Dlanggu Mojokerto

Tugu-tugu seperti di Dlanggu dulu dibangun untuk memberi tanda bahwa disekitar tempat itu pernah terjadi peristiwa sejarah pada masa perjuangan kemerdekaan

Mojokerto,LR
Tugu berbentuk peluru itu berdiri di pertigaab pasar Dlanggu Mojokerto. Bentuk fisiknya tidak terlalu tinngi, sekitar 3 meteran, tetapi terlihat mencolok karena warna merah diujungnya. Secara umum terdiri dari 3 bagian, yaitu fondasi bawah, bagian tengah dan ujung yang berbentuk proyektil peluru. Sekarang ini dia bagiannya telah hilang, yang ada tinggal bagian fondasinya. Konon terpenggal sebab ditabrak truk.
Pada masa lalu, tugu semacam itu banyak terdapat di Mojokerto. Setidaknya pernah ada di pertigaan pasar Brangkal dan pertigaan Lengkong Trowulan. Tugu-tugu itu dibangun untuk memberi tanda bahwa disekitar tempat itu pernah terjadi peristiwa sejarah pada masa perjuangan kemerdekaan. Tujuannya agar orang tetap mengenang akan jasa para pahlawan, khususnya mengenang mereka yang terlibat dalam peristiwa di tempat itu. Kini, tugu-tugu itu banyak yang hilang. Hilang karena ditabrak, seperti di Dlanggu, atau karena dihilangkan oleh pembangunan, contohnya di brangkal dan Lengkong.
Tugu Peluru Dlanggu dibangun untuk memperingati pertempuran seru pada tahun 1947, kalo tidak salah tanggal 12 Pebruari 1947. Pada hari itu, pasukan komando Hayam Wuruk yang terdiri dari Batalyon Mansyur Sholikhi (Hizbullah), Batalyon Moenasir (Hizbullah), Batalyon Bambang Yuwono dan Batalyon Tjipto dikepung oleh tentara Belanda. Para pejuang bertarung untuk bisa lolos dari kepungan lawan. Perjuangan meloloskan diri tersebut meminta korban yang tidak sedikit. Banyak anggota batalyon yang hilang, entah meninggal dalam pertempuran atau tidak bisa kembali berkumpul dalam kesatuannya.
Dalam pengepungan itu, Tentara Belanda menggunakan taktik yang tidak lazim. Oleh Tentara Belanda, rakyat sekitar dlanggu dipaksa berbaris dan berjalan maju menuju basis pertahanan tentara republik. Di belakang rakyat itu tentara Belanda mengikutinya dengan pasukan kavaleri dan infantrinya. Taktik semacam itu sekarang kita kenal dengan "Tameng Hidup". Dengan cara semacam itu, tentara RI menjadi bimbang untuk menembak karena yang terlihat adalah barisan rakyat yang berjalan dibawah todongan senapan penjajah.
Pertarungan menjadi tidak imbang karena Belanda membombardir posisi pejuang dengan artileri berat dan kanon dari tank-tanknya. Belanda menggiring pejuang dengan jepitan dario berbagai penjuru. Pasukan lawan berbaris dalam posisi menyerang dari arah Mojosari, Pugeran, Pacet dan Trawas. Pertempuran tidak seimbang terjadi dan tembak menembak berlangsung mulai pagi hingga larut malam. Dalam kegelapan malam, para pejuang berhasil lolos dan bergerak menuju Dinoyo.
Korban dalam pertempuran hari itu terbilang besar. Kesaksian Almaghfurllah Abah Yat menyatakan bahwa ratusan orang meninggal. Mereka tergeletak di jalanan. Korban dari kalangan tentara juga tidak sedikit. Dua Batalyon Hizbullah, yaitu batalyon Moenasir dan Mansyur Sholikhi porak-poranda. Kapten Majid Asmara, kepala staf batalyon dan Mat Yatim, komandan kompi gugur di sekitar jembatan Ngembeh Dlanggu. Mereka berdua adalah orang dari 500 orang yang pernah mengikuti pelatihan militer Hizbullah di Cibarusa.(*)

No comments:

Post a Comment

Search