LINTASREPUBLIK
Kemiskinan menurut Islam adalah tidak terpenuhinya kebutuhan primer baik sebagian atau keseluruhannya dikarenakan faktor ekonomi. Kebutuhan primer dalam Islam yaitu sandang, pangan, papan, dan pendidikan.
Kemiskinan dalam Islam tidak dilihat dari agamanya, jenis kelamin dan rasnya. Hukum kemiskinan sendiri dalam Islam merupakan fardhu kifayah (kewajiban kolektif) bagi kalangan yang mampu dan terlebih lagi kaya raya.
Menariknya di Indonesia adalah adanya semangat yang berlebihan dalam pemenuhan ibadah-ibadah sunah yang bersifat mahdhoh dengan tidak menjalankan hal-hal fardhu kifayah. Padahal, meninggalkan ibadah fardhu kifayah demi mengejar ibadah sunah, hukumnya haram. Misalnya saja, mengeluarkan biaya demi melaksanakan haji yang kedua kalinya ataupunVumroh, tatkala masih ada tetangganya yang miskin (belum terpenuhi kebutuhan primer dalam pandangan Islam), maka hukum haji atau umrohnya adalah bukan saja tidak diterima amal ibadahnya melainkan diharamkan, karena di dalamnya masih terdapat hak-hak fakir-miskin tetangganya yang belum ditunaikannya.
Menjadi mengiris hati melihat negeri ini, umat Islam sebagai mayoritas tapi di Indonesia ini kalangan miskin berlimpah ruah. Islam memang tidak melarang seseorang mencari kekayaan, sekaya apapun, akan tetapi kemiskinan hukumnya fardhu kifayah bagi kalangan yang mampu. Melaksanakan fardhu kifayah juga tidak melihat penyebab kemiskinan seseorang, karena objek hukum fardhu kifayah adalah kalangan yang mampu itu sendiri.
Berapa banyak ulama di Indonesia? Berapa banyak ustadz di Indonesia? Berapa banyak kyai-kyai di Indonesia? Berapa banyak intelektual Islam di Indonesia? Berapa banyak pesantren-pesantren di Indonesia? Berapa banyak kampus- kampus Islam di Indonesia? Berapa banyak orang Islam yang memiliki kekayaan berlimpah di Indonesia? Tapi mengapa kemiskinan masih merajalela???
Perlu diketahui, mengatakan kemiskinan sebagai sunatullah bukan saja diharamkan dalam Islam, melainkan juga sebagai bentuk kedzoliman. Masih ingatkah, bagaimana di masa kekholifahan sahabat Umar, kala itu rakyatnya tiada yang mengalami kemiskinan?
Sistem di Indonesia sudah bagus, hanya saja umat Islam yang mayoritas, ulama yang melimpah, para ustadz yang tersebar di seantero nusantara, kyai-kyai yang hampir ada di mana-mana, banyaknya mursid thoriqoh, dan intelektual Islam yang semakin menjamur, dari mereka yang mampu hampir keseluruhannya hanya memikirkan dunia. Hampir kesemuanya di antara mereka yang berkecukupan dari yang fundamentalis sampai liberalis, dari sayap kanan hingga sayap kiri di Indonesia sama sekali tidak dapat dijadikan panutan. Hal ini karena, mereka bukan saja fakir ilmu yang hakiki, juga fakirnya jiwa mereka.
Mereka suka mendiskusikan kemiskinan, menjadikan kemiskinan dan akherat sebagai obralan dalam dakwah billisan- nya, tapi kegelisahan atas fenomena ini hanya dalam bingkai retorika. Klasik, dari masa pra sejarah, penjajahan, higga kini mereka tidak berubah. Selalu mencari pembenaran dengan menempel-nempelkan ayat Alquran, hadits, kisah para ulama masa lalu, kisah para nabi, yang seolah-olah sebagai suara Tuhan, agar zona nyamannya tak terusik.
Melalui coretan kecil ini, marilah kita bersama-sama bukan lagi hanya mendiskusikan kemiskinan, namun saatnya lah kita bangkit membantu secara riil terwujudnya kesejahteraan melalui tangan kita. Kewajiban kita, di mulai dari yang terdekat, dari sekitar kita, dari tetangga-tetangga kita. Dari RT, RW, Kecamatan, Kabupaten Propinsi, hingga Negeri, Tidaklah mustahil terwujud, jika kita semua bersama-sama melaksanakannya, apapun status kita.
Apakah kita masih merasa miskin? Naudzubillahimindzalik….
No comments:
Post a Comment