Jember – Lintas
Republik
Dalam
melaksanakan proses belajar mengajar demi sukseskan program pemerintah pada
bidang pendidikan gunakan mencerdaskan bangsa, haruslah di dukung dengan
fasilitas dan kuantitas juga mutu pendidikan yang memadai, tetapi apa yang kita
lihat dan kita baca pada kali ini adalah
salah satu potret buram dari dunia pendidikan negeri ini.
Ruang kelas yang nyaman, bersih, dan kokoh tentu akan meningkatkan konsentrasi belajar siswa karena mereka dapat belajar dengan tenang, namun hal tersebut masih menjadi impian bagi anak-anak sekolah di beberapa pelosok daerah.
Di Jember contohnya, data Dinas Pendidikan setempat mencatat sebanyak 260 ruang kelas SD yang dibangun tahun 1970-an dalam kondisi rusak sedang dan berat, sehingga diusulkan untuk mendapat anggaran perbaikan pada tahun 2015.
Hampir setiap tahun dana perbaikan sekolah yang rusak selalu diusulkan melalui dana alokasi khusus (DAK) dan anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD), bahkan anggaran pendidikan dalam APBD setiap tahun mencapai 20 persen lebih.
Namun, rusaknya ruangan kelas akibat bencana atau rapuhnya bangunan harus menunggu satu hingga dua tahun, bahkan bisa lebih, hanya untuk menunggu anggaran perbaikan dari pemerintah.
Tak heran, ratusan siswa harus belajar secara darurat di halaman musala, rumah warga, dan ruangan yang tidak terpakai dengan kondisi jauh dari kata layak untuk sarana kegiatan belajar dan mengajar. Tidak hanya itu, terkadang siswa harus belajar dengan lesehan, tanpa ada bangku dan meja sebagai sarana untuk KBM, bahkan siswa harus berdesak-desakan untuk duduk dengan jumlah bangku yang terbatas.
Ironis memang potret pendidikan di sejumlah daerah terutama di pelosok desa yang terpencil, minim dengan sarana dan prasarana pendidikan, namun di satu sisi pemerintah terus menggembor-gemborkan peningkatan mutu pendidikan.
Di momentum Hari Pendidikan Nasional, semua pihak tentu berharap mutu pendidikan di Indonesia semakin meningkat, namun hal tersebut tidak terlepas dari pemenuhan sarana dan prasarana pendidikan yang layak dan sumber daya manusia (SDM) guru pendidik yang handal.
Semoga mimpi Ki Hajar Dewantara untuk memajukan pendidikan dapat terwujud dan peringatan Hardiknas
tidak hanya dimaknai sebatas peringatan seremonial saja, namun kebutuhan dasar
pendidikan harus dipenuhi !!!.* (Red.)

No comments:
Post a Comment